for my coffee
Aku duduk di padang rumput
dengan jam pasir yang betapa ingin isinya kutebar dalam kabut
Sisi-sisi gelasnya dingin mengurungku,
memaksa mengepompongkanku sebelum kupu-kupu
Aku duduk di padang rumput
di bawah langit hitam indah, merajut
dengan setiap uap napas, tetes keringat, dan impian yang berdenyut
demi sepasang sayap kuat yang tak kan menciut
Aku duduk di padang rumput
Berpayah dengan jari yang belum berkerut
menggetarkan lagu cinta bagi kekasihku yang terpisah sudut
Melempar lewati lengkung langit benang kasih lembut
Namun ketika satu bintang jatuh menyayatnya putus bagai lelembut,
lahir suatu ruang kosong tempat setiap hal tercerabut
Seperti pingsan, kebahagiaan tak lagi gendut,
dan air mata bagai terlahirkan oleh marmut
Hatiku meleleh bagai gula digigiti sejuta semut
Aku masih duduk di padang rumput
Bertelut
Dunia terdiam, menantiku kembali merajut
--terbahasakan setelah lewat hampir seminggu; kadang masih termangu--
[72C, Jan 19, 2003, 19:40]
