Friday, July 23, 2004

for my coffee

Aku duduk di padang rumput
dengan jam pasir yang betapa ingin isinya kutebar dalam kabut
Sisi-sisi gelasnya dingin mengurungku,
memaksa mengepompongkanku sebelum kupu-kupu

Aku duduk di padang rumput
di bawah langit hitam indah, merajut
dengan setiap uap napas, tetes keringat, dan impian yang berdenyut
demi sepasang sayap kuat yang tak kan menciut

Aku duduk di padang rumput
Berpayah dengan jari yang belum berkerut
menggetarkan lagu cinta bagi kekasihku yang terpisah sudut
Melempar lewati lengkung langit benang kasih lembut
Namun ketika satu bintang jatuh menyayatnya putus bagai lelembut,
lahir suatu ruang kosong tempat setiap hal tercerabut
Seperti pingsan, kebahagiaan tak lagi gendut,
dan air mata bagai terlahirkan oleh marmut
Hatiku meleleh bagai gula digigiti sejuta semut

Aku masih duduk di padang rumput
Bertelut
Dunia terdiam, menantiku kembali merajut

--terbahasakan setelah lewat hampir seminggu; kadang masih termangu--
[72C, Jan 19, 2003, 19:40]

Untuk Norah Jones

Jangan kau biarkan ia
menjilati mata kakiku saja;
jangan berhenti di sana.
Tuntun ia perlahan
merayapi tubuhku.
Sampai mengusap mata hatiku.
Tak keberatan hidungku
saat kau masuk lewat situ.
Tenggelamkan,
baptis aku!
Jadilah dokter bedah
dengan dia sebagai ujung indah pisaumu.
Sayat, potong, belah,
dan kuliti tiap sel
hingga hijau-biru keping darahku.
Dan untaian syukur masih
akan lahir dari mulutku.
Buatlah ia morfin dan
sumbatlah hidungku
sampai penuh.
Maka semua panti rehab
akan menerima kutukku.
Jika ia adalah dosa
maka aku tak ingin terselamatkan.
Aku akan mulai menumbuhkan tanduk
dan mulai memanggil diriku 'setan'.
Dan bila kau menjauhkan
dia dariku, menjadikannya
bintang di angkasa,
aku akan mendaki langit
dan mengawininya.
Dan oh, anak-anak kami:
meteor-meteorit yang
jelita!
Apapun itu tetaplah
selalu
mainkah dia: Jazz itu.


[72C, Nov 22, 2002; 12:16]

Thursday, July 15, 2004

Kembali

Kembali


menapak di kenyataan. begitu tidak nyaman.
mengingat hidupmu, kisahmu, pekerjaanmu,
segala yang biasa, semua yang tertunda.
abu-abu yang memeluk semesta.
meninggalkan cahaya yang berpendar, berkerlip,
meriah di belakang.
tak mampu menolak ketika semuanya bergerak
menjadi siluet perlahan.
magnet besar di bawah kedua kakimu,
menyeret kepada jalurmu.
kutukmu.

--untuk kembali ke surabaya, selepas dari negri jiran--
[c. 102;15 Juli 2004, 16:20]

Wednesday, July 14, 2004

sumpek

halo dunia.
seberapa kusut lorong-lorong di dalam kepalamu? seberapa kumal dinding-dindingnya? seberapa sempit dan berhimpitnya di sana sehingga kamu ingin merekahkannya biar semburat ke angkasa?
punyaku sedang jelek; pernah lebih baik.

namun tadi sudah ada simpul yang terurai. tidak menyelesaikan semuanya, memang [ataukah iya? hmm...]; tapi setidaknya ada sedikit udara.

\\\dering telepon di ruang admin\\\ brengsek. sudah tau jam kerja sudah habis, masih telepon pula! \\\dering telepon berhenti\\
memang manusia itu terkutuk untuk melakukan apa yang tak ia inginkan.
meski tak selalu, tapi seringnya.

[c.102; rabu, Juli 14, 2004; 15:45]